Sabtu, 30 Januari 2010

MASALAH GIZI BURUK PADA ANAK BALITA

Oleh Sri Poedji Hastoety Djaiman *
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari secara terus menerus. Berat badan anak apabila ditimbang berdasarkan umur (BB/U) ataupun berdasarkan tinggi badan atau panjang badan (BB/BT atau BB/PB) berada dibawah 3 SD (Standar Deviasi) standar WHO-NCHS (World Health Organitation Center For Health Statistics).
TIPE GIZI BURUK
Pada anak kurang gizi tanda-tanda khas belum kelihatan kecuali badan kelihatan relatif sedikit lebih kurus. Pada penderita gizi buruk tanda-tanda klinis sudah jelas, sehingga untuk membedakannya dikenal tipe –tipe gizi buruk, yaitu maramus, kwasiorkor, dan marasmik-kwasiorkor.
- Maramus
Penderita maramus umumnya terdapat di perkampungan kumuh baik di perkotaan maupun di pedesaan yang kehidupan keluarganya miskin. Maramus sangat berkaitan erat dengan kondisi lingkungan sosial ekonomi dan kesehatan.
Kondisi kekurangan pangan yang mengakibatkan maramus. Proses terjadinya adaptasi pemecahan di otot dan lapisan lemak bawah kulit. Proses pemecahan tersebut merupakan proses fisiologis yang normal untuk menggantikan keperluan energi yang kekurangan agar dapat mempertahankan hidup.
Selain itu proses pemecahan tersebut berfungsi melindungi berbagai proses metabolisme lainnya termasuk persediaan asam aminoesensial sehingga hati dapat melakukan sintesis serum albumin dan beta lipoprotein yang diperlukan untuk proses keseimbangan.


Hal ini menyebabkan pada maramus tidak timbul oedema serta hati yang berlemak. Tanda-tanda maramus: Anak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang tua, cengeng, rewel, perut cekung, kulit keriput, jaringan lemak sangad sedikit dan lain-lainnya..

- Kwasiorkor
Kwasiorkor diperkenalkan dalam istilah kedokteran olh Cicely Williams di afrika pada tahun1932 sebagai mana penyakit dari salah
yang dispih karena kelahiran adik berikutnya. Kwasiorkor ditemukan pada anak-anak yang setelah mendapatkan ASI dalam jangka waktu yang lama,kemudian disapih dan langsung diberi makanan seperti anggota keluarga lainnya. Makanan yang diberikan umumnya rendah protein, tidak diberi makanan tambahan susu formula atau kalau diberikan jumlahnya tidak mencukupi karena masalah kemiskinan.
Awal penyebab kwasiorkor adalah kekurangan protein dalam kuantitas dan kualitas yang diikuti dengan kekurangan energi dan vitamin didalam makanan sehari-hari. Pada kwasiorkor, karena konsusi protein yang rendah, asam-asam amino yang diperlukan untuk proses sintesis jumlahnya sedikit. Hal ini mengakibatkan terhalangnya sintesis albumin dan lipoprotein yang diperlukan bagi proses homoeostatis, sehingga timbul oedema. Tanda-tanda kwasiorlor: adanya oedema diseuruh tubuh terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab, rambut kusam mudah dicabut, pembesran hati, kulit pecah meengelupas dan lain-lain.

- Marasmik- kwasiorkor
Tanda-tanda marasmik-kwasiorkor merupakan gabungan tanda-tanda keduanya yaitu maramus dan kwasiorkor.


AKIBAT GIZI BURUK
Akibat yang menderita gizi buruk bila tidak segera ditangani sangat beresiko kematian sehingga dapat meningkatkan angka kematian bayi yang menjadi salah satu indikator derajat kesehatan.
Anak yang pernah menderita gizi buruk, sulit dapat mengejar pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Disamping itu, anak yang menderita gizi buruk, mempunyai tumbuh kembang lebih jelek dibandingkan anak gizi kurang dan baik.
Hasil penelitian pada anak balita pengunjung Klinik Gizi Bogor menunjukan bahwa tingkat kecerdasan anak yang pernah menderita gizi buruk defisit sekitar 11 poin, school achievement lebih rendah , tingkat droup out lebih tinggi dan proposi tingal kelas lebih tinggi pada saat mereka usia sekolah dibandingkan teman seusianya, penelitian lain menunjukan skor Mental Development Index (MDI) dan psychomotor Development Index (PDI) juga defosit rata-rata 17,4 poin dan 14,1 poin.
PENANGGULANGAN GIZI BURUK
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan dalam upaya menekan jumlah gizi buruk, diantaranya melalui pemberian makanan tambahan dalam Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan peningkatan pelayanan gizi melalui pelatihan-pelatihan tata laksana gizi buruk kepada tenaga kesehatan,
Direktoriat gizi Masyarakat (2003) telah mengeluarkan 2 buku yang isinya khusus menangani gizi buruk. Buku I mengenai bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk dan buku II Petumjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk. Dalam buku I tersebut dijelaskan, bila ditemukan anak gizi buruk harus mendapatkan pelayanan rawat inap dirumah sakit atau puskesmas perwatan.

Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor,selain itu tugas utamanya melakukan penelitian, juga melakukan pelayanan kesehatan di Klinik Gizi-nya khusus anak balita gizi buruk untuk masyarakat luas di sekitar Bogor (kabupaten/kota) setiap hari selasa pagi hingga siang. Anak balita gizi buruk, termasuk maramus, kwasiorkor dan marasmis kwasiorkor mendapati program rehabilitasi berupa paket berobat jalan untuk kunjungan 13 kali sampai 18 kali selam 6 bulan. Terbukti setelah ditangani 6 bulan diantaranya dengan pengobatan, pemberian susu skim, berat badab anak-anak gizi buruk dapat ditingkatkan, beberapa dinas kesehatan kabupaten/kota telah mengirimkan sebagian tenaga kesehatannya ke Puslitbang Gizi dan Makanan untuk dilatih bagaimana menangani gizi buruk.








Majalah Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 168 Tahun 2004



DAFTAR PUSAKA
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.920/MenKes/SK/VIII/2002 tentang klasifikasi status gizi anak bawah lima tahun.
2. Siswanto, hadi; Miranto; Rachmaniar, dan Atmarita. 2001. Berapa besar masalah gizi di Indonesia dan bagaiman menanggulanginya? Journal Data dan Informasi Kesehatan,1(1):7-17.
3. Direktorat Gizi Masyarakat. 2000. Buku panduan pengelolaan program perbaikan gizi Kabupaten/Kota, Jakarta: Departemen Kesehatan.
4. Direktorat Bina Gizi Masyarakat dan Biro Pusat Statisti. 1988. Laporan studi analisa besar dan luasnya masalah kurang kalori protei serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Biro Pusat Statistik-Jakarta.
5. Latinulu, S. 1993. Pemantaun penggunaan status gizi balita dalam perencanaan program dari bawah. Medika, 19(9):51-60
6. Pujiadi, Solihin. 1990. Ilmu gizi pada anak. Balai Penerbitan Kesehatan UI, jakarta.
7. Kartono, D.dan sihadi,1993. Beberapa as[ek psikososisl pada anak kurang kalori protein (KKP) di daerah Bogor. Penelitian Gizi dan Makanan, 16:8-15
8. Arnelia. 2003. Penanganan balita gizi buruk secara rawat jalan: pengalaman Gizi Buruk Bogor. Dismpaikan pada Pelatihan Pemantapan Klinik Gizi Provisi DKI jakarta. Bogor,13-17 Oktober.
9. Direktorat Gizi Masyarakat. 2003. Buku bagan tatalaksana anak gizi buruk. Direktorat Gizi Masyarakat dengan USAID jakarta.







Nama : Intania Qur’ani Yuda
Nim : 4004090070
Prodi : D3.Kebidanan
Tugas : Artikel Mengenai Masalah kesehatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar